Pelestarian Lingkungan Perwujudan Kemuliaan Manusia Sebagai Khalifah di Bumi

MALANG – Islam oleh Muhammadiyah ditampilkan sebagai kekuatan dinamis untuk transformasi sosial dalam dunia nyata kemanusiaan melalui gerakan “humanisasi” (mengajak pada serba kebaikan) dan “emanisipasi” atau “liberasi” (pembebasan dari segala kemunkaran), sehingga Islam diaktualisasikan sebagai agama Langit yang Membumi, yang menandai terbitnya fajar baru. Demikian itu disampaikan Ketua Divisi Lingkungan Hidup LLHPB Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Hening Parlan pada Kuliah Ahad Subuh (KAS) yang diselenggarakan oleh Biro ADM. Akademik dan Pengembangan Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) Universitas Muhammdiyah Malang (UMM) pada Ahad (11/12/22).

Dalam acara yang bertempat di Masjid AR. Fachruddin UMM ini Hening menyampaikan bahwa Muhammadiyah diinspirasi oleh Al-Qur‘an Surat Ali Imran 104 ingin menghadirkan Islam bukan sekedar sebagai ajaran transendensi yang mengajak pada kesadaran iman dalam bingkai tauhid semata dan bukan Islam yang dipahami secara parsial.

Lebih jauh ia mengatakan, dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar pada bidang pertama terbagi kepada dua golongan. Pertama kepada yang telah Islam bersifat pembaharuan (tajdid), yaitu mengembalikan kepada ajaran Islam yang murni. Kedua kepada yang belum Islam, bersifat seruan dan ajakan untuk memeluk Agama Islam.

Lanjutnya, adapun dakwah amar ma’ruf nahi munkar kedua, ialah kepada masyarakat, bersifat perbaikan dan bimbingan, serta peringatan. Kesemuanya itu dilaksanakan dengan dasar takwa dan mengharap keridhaan Allah semata-mata. “Melaksanakan dua gerak dakwah amar ma’ruf dan nahi munkar dengan caranya masing-masing yang sesuai kepribadian Muhammadiyah yaitu menggerakkan masyarakat menuju tujuannya yaitu, terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya,”paparnya.

Terkait lingkungan hidup, ia mengatakan, Muhammadiyah tahun 1990-1995 mempunyai program di bidang lingkungan hidup yakni. Pertama, berpartisipasi dalam pengembangan usaha-usaha pelestarian lingkungan hidup dan pencegahan kerusakan alam dari berbagai pencemaran dan perusakan. Kedua, berpartisipasi aktif dalam pengembangan usaha-usaha pembangunan yang berwawasan lingkungan hidup. Ketiga, kesadaran dan usaha-usaha penciptaan lingkungan yang sehat dan bersih khususnya di kalangan warga Muhammadiyah dan umat Islam sesuai ajaran Islam yang sangat menaruh perhatian terhadap kesehatan, sehingga tercipta tradisi hidup sehat di lingkungan yang juga sehat. Keempat, menumbuhkan kesadaran warga Muhammadiyah untuk melaksanakan dan mendukung program tersebut.

Ia juga mengungkapkan, sekitar satu abad setelah kelahirannya, sejak tahun 2003, Muhammadiyah telah mendirikan Lembaga Studi dan Pemberdayaan Lingkungan Hidup (LSPLH) dan menjadikan program lingkungan sebagai bagian tidak terpisahkan dari program organisasi. “Pada Muktamar Muhammadiyah ke 45 Tahun 2005 di Malang diubah menjadi Lembaga Lingkungan Hidup (LLH) Muktamar Muhammadiyah ke 46 di Jogja bertepatan dengan 1 Abad, yaitu tahun 2010 diubah lagi menjadi Majelis Lingkungan Hidup (MLH) agar lebih memudahkan operasionalisasi program dan kegiatannya,”ungkapnya.

“Pada Muktamar Muhammadiyah ke 47 di Makasar ditegaskan terkait peran penyelamatan dan pengelolaan lingkungan melalui Majelis Lingkungan Hidup dengan tujuan terwujudnya kesadaran, kepeduliaan dan perilaku ramah lingkungan warga Muhammadiyah dan masyarakat pada umumnya dalam rangka melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar,”imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, dirinya mengungkapkan bahwa, Muktamar ‘Aisyiyah juga menetapkan lahirnya Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) merupakan perwujudan dari amanat keputusan Muktamar ‘Aisyiyah ke 47 di Makassar tahun 2015. “Lembaga ini bertujuan mendukung dan mengusahakan upaya pelestarian lingkungan hidup dan penanggulangan bencana sebagai perwujudan kemuliaan manusia sebagai pemimpin di muka bumi sehingga tercipta budaya melestarikan dan menjaga lingkungan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,”ungkapnya.

Dalam acara Kuliah Ahad Subuh yang mengusung tema “Muhammdiyah dan Gerakan Lingkungan” yang dihadiri tidak kurang dari 1.000 mahasiswa ini Hening menyampaikan bahwa ada nilai dan etika yang harus dihadirkan untuk menyemangati umat manusia dalam upaya penyelamatan bumi. “Landasan epistemologis dari teologi lingkungan adalah kesadaran agama-agama bahwa krisis lingkungan sudah sangat parah saat ini sehingga bencana alam pun terus menerjang umat manusia,”pungkasnya. Hal tersebut kata dia, bukan semata problem sekuler, melainkan juga merupakan problem religius atau problem teologis.

“Untuk mencapai Baldatun Toyyibatun Warrobun Ghofur, ada beberapa catatan strategis yang harus dilakukan yakni melakukan transfer pengetahuan, proses pendampingan, kolaborasi, mobilisasi sumberdaya, dan sistimatisasi gerakan menjadi ide dan aksi yang berdampak,”tutup Hening. (Iwan Abdul Gani/Suri)

Gerakan ASI ‘Aisyiyah Melintas Zaman

Gerakan ASI oleh ‘Aisyiyah telah dimulai sejak masa-masa awal berdiri. Kegiatan yang diberi nama Kongres Bayi atau semacam kontes bayi sehat sebagaimana terdapat dalam foto, berlangsung dalam perhelatan Kongres ‘Aisyiyah di Minangkabau tahun 1930 yang dihadiri oleh utusan-utusan ‘Aisyiyah se-Indonesia. Dalam Kongres Bayi tersebut, ‘Aisyiyah bekerja sama dengan para dokter Bumiputera, Tionghoa, maupun Belanda untuk memeriksa kesehatan para bayi. Usai pemeriksaan, dokter dan seksi kesehatan dari ‘Aisyiyah akan memberikan edukasi kepada para ibu tentang kesehatan anak, bahwa kesehatan bayi juga ditentukan oleh kesehatan ibu ketika mengandung, pentingnya ASI bagi bayi, bahaya nyamuk, anjuran memandikan bayi dengan sabun, dan manfaat imunisasi untuk bayi.

Komitmen ‘Aisyiyah terhadap kesehatan ibu dan anak saat itu, membuat Kongres Bayi menjadi kegiatan rutin yang diselenggarakan di setiap Kongres ‘Aisyiyah, seperti Kongres ‘Aisyiyah di Makasar tahun 1932, di Yogyakarta tahun 1937, dan Kongres 28 di Medan pada 1939. Kegiatan semacam Kongres Bayi atau baby show bukan hanya diselenggarakan dalam perhelatan besar seperti Kongres ‘Aisyiyah, tapi juga diselenggarakan hingga di tingkat ranting (desa). Ini dilakukan agar semakin banyak para ibu yang mendapatkan edukasi tentang kesehatan anak. Keberpihakan ‘Aisyiyah terhadap kesehatan ibu dan anak, termasuk gerakan ASI terus berlanjut dalam berbagai bentuk kegiatan baik di masyarakat maupun melalui amal usaha kesehatan ‘Aisyiyah hingga saat ini, ketika ‘Aisyiyah telah memasuki usia 2 Abad. (Sumber : Anak ASI, Generasi EMAS; PP ‘Aisyiyah, 2014)

 

Koperasi dan Rumah Bibit BSA Mangli, Buktikan Perempuan Mampu

“Apa bisa perempuan mendirikan koperasi pembibitan? apa bisa langgeng? apa bisa bertahan ?” Ucapan-ucapan pesimis itu kerap kali didengar oleh para Anggota Balai Sakinah ‘Aisyiyah Desa Mangli, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Sahmi, Sekretaris Koperasi Berkah Surya Setaman yang menaungi rumah pembibitan menyampaikan ia dan teman-teman sudah kebal mendengar kalimat-kalimat pesimis semacam itu, karena kalimat serupa sudah terdengar saat ia bersama perempuan Desa Mangli lainnya membentuk Balai Sakinah ‘Aisyiyah (BSA) dampingan program ‘Aisyiyah MAMPU. “Kami sejak awal mendirikan BSA juga sudah sering mendengar hal seperti itu, sudah biasa, tetap maju saja, kita tetap semangat, Bismillah, ikhtiar kita Alhamdulillah bisa mendirikan koperasi itu suatu anugerah,” ungkap Sahmi.

Wartiyah, Ketua Koperasi Berkah Surya Setaman menyampaikan bahwa koperasi ini awalnya terbentuk karena para perempuan anggota BSA ingin membentuk wadah untuk memajukan basis kegiatan di tani yaitu membantu pemasaran. “Awal mulanya kami ingin membentuk koperasi untuk wadah pengepul sayur-mayur yang kami panen,” ujar Wartiyah. Akan tetapi setelah berdiskusi lebih lanjut para perempuan BSA ini melihat bahwa pengepul sayur organik yang seperti mereka tanam masih belum diminati oleh masyarakat luas sedangkan pengepul sayur non organik sudah banyak pesaingnya. “Awalnya rencana kami mengepul sayur kemudian memasarkan tetapi setelah dipikirkan kembali untuk pembibitan lebih menguntungkan,” jelasnya.

Fakta bahwa para petani di Mangli harus ke luar desa untuk membeli bibit menambah keyakinan para perempuan BSA ini untuk mendirikan koperasi rumah pembibitan pada tahun 2020. “Para petani di Desa Mangli ini kalau membeli bibit harus ke Ngablak, karena itu kami meyakinkan diri bahwa akan sangat membantu sekali untuk warga sini jika bisa beli bibit di Mangli,” ujar Wartiyah.

Jalan mendirikan koperasi dan membangun rumah pembibitan bukanlah jalan yang mulus. Diakui oleh Sahmi, pendanaan dan tenaga menjadi kendala awal dalam perjalanan mereka. “Kami mendirikan koperasi juga tidak punya biaya, hanya ada dana 1.700.00 tapi rumah bibit itu habisnya 5 juta, kami bertanya-tanya duit e ki soko endi, tapi alhamdulillah kami merasakan manfaatnya saat kita berkelompok itu bisa saling urun dan sambung menyambung masalah biaya,” kisah Sahmi.

Untuk permasalahan tenaga pun mereka sangat berterimakasih karena suami-suami dari ibu-ibu anggota BSA yang menjadi anggota koperasi turut urun tenaga membantu berdirinya rumah bibit ini. “Kami melibatkan bapak-bapak yang istrinya ikut koperasi, para bapak itu sangat antusias luar biasa, apalagi yang sangat kami salut anggota yang dari Mangli Mbojong suaminya selalu ikut kegiatan di koperasi terutama kegiatan rumah bibit, kami sangat terharu.”

Sahmi mengaku saat ini sewa lahan untuk rumah pembibitan sudah terlunasi. Kemudian juga secara bertahap sudah mulai melunasi pinjaman uang para anggota koperasi yang digunakan untuk pembangunan rumah bibit.

“Alhamdulillah rumah pembibitan ini sudah berjalan, tadinya kami takut kalau tidak laku, mikire gini mba, kita pesimis sama kegiatan kita, ah apa yo payu bibit kita ini?” ujar Sahmi. Saat ini ketakutan itu dapat mereka lalui dengan senyum keberhasilan karena hampir semua bibit yang dibuat sudah ada yang memesan. “Awalnya rumah bibit ini kami mulai hanya dengan 29 beki dan kita mulai dari lahan yang kecil, kemudian kita memberanikan diri memperluas lahan, alhamdulillah setelah luas lahan, dari luar dusun pun beli di kami.” Sahmi menyampaikan petani yang membeli bibit di Koperasi Berkah Surya Setaman saat ini sudah berasal dari 3 dusun yakni Mangli Krajan, Mangli Mbojong, dan Mangli Dadapan. “Alhamdulillah melalui gethuk tular saja rumah pembibitan kami diminati.”

Disampaikan oleh Wartiyah bahkan rumah pembibitan saat ini belum bisa memenuhi permintaan bibit yang masuk. “Setiap orang bisa 20 sampai 30 beki sekali beli,” ungkap Wartiyah. Ia menyebut dalam satu beki berisi sekitar 400 bibit dan permintaan yang masuk perbulan dikisaran 300 beki dan akan semakin banyak jika di musim penghujan, tetapi pihaknya belum dapat memenuhi permintaan tersebut.
Wartiyah bersyukur karena kerja keras para ibu anggota BSA di koperasi dan rumah pembibitan ini mulai menunjukkan hasilnya.

“Alhamdulillah setiap bulannya kan ada piket, per piket ada gaji yg diberikan, kmudian setiap membuat bibit atau ngepot setiap beki dihitung Rp. 4000, perbulan ada yang bisa membuat 50-100 beki sehingga bisa menambah perekonomian keluarga,” terangnya.
Wartiyah berharap Koperasi dan Rumah Pembibitan ini dapat semakin maju dan bisa memenuhi kebutuhan pembibitan di Desa Mangli bahkan sampai ke se-Kabupaten Magelang. “Mudah-mudahan ibu-ibu selalu semangat dan istiqomah berkoperasi dan produktif di rumah pembibitan ini.” (Suri)